Cerita Realita: Seorang Gay yang Depresi karena Selalu Berpura-Pura bukan Menjadi Dirinya

Suatu ketika dalam sesi, ada seorang lelaki yang cerita “Saya gak tahan. Saya mau cerita. Saya gay. Saya depresi karena mesti berpura-pura bukan jadi diri saya. Saya merasa ditolak dan dikucilkan.”

Suaranya terdengar bergetar sedih. Saya pun ikut trenyuh dan merinding mendengarnya. Saya juga kaget karena tidak menyangka dia gay.

Sejak kecil dia selalu diasuh oleh susternya karena mommy-nya jarang ngurus dan suka selingkuh.

Dia lanjut cerita “yang ngajar saya pertama kali berbohong adalah mama saya. Kalau ada yang nelpon, bilang mama gak ada di rumah. Padahal mama ada di rumah. Lalu sewaktu saya diajak mama ketemu dengan lelaki lain, saya disuruh bilang ke papa kalau perginya
berdua saja dengan mama.”

Papanya pun sangat otoriter. Dia tidak pernah bisa melawan karena setiap kali sebelum dibilang “Kamu mesti nurut karena kamu masih kecil!”

Dia sangat marah dan ingin melawan. Tapi tidak berani. Dia merasa sangat kesepian karena selama ini dia merasa dikucilkan dan tidak diterima oleh ortunya dan orang lain.…

Jadi ya bisa dibayangkan penderitaannya karena dirinya tidak diakui dan diterima apa adanya.

Dan semuanya ini dipendam saja puluhan tahun hingga akhirnya saat dia bercerita di sesi…

Tahukah Anda bawah salah pola asuh di anak usia 3 – 6 tahun bisa berpotensi menyebabkan penyimpangan seksual seperti LGBT?

Inilah fase yang oleh Sigmund Freud, bapak psikologi dunia, disebut sebagai the phallic stage.

Bagaimana mengetahui keunikan anak Anda untuk bisa mengasuhnya sesuai keunikannya masing-masing?

Yuk ikut Workshop Adaptive Parenting dan ketahui caranya, sekaligus langsung praktek!

Atau silahkan juga jika Anda ingin konsultasi privat dengan saya.

Thanks!

Yuk Share:

Leave a Comment

Your email address will not be published.